Tahun 1918, Indonesia Terkena Dampak Pandemi Influenza

Kompas.com - 19/06/2009, 21:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pandemi influenza tahun 1918 merupakan bencana terbesar dalam sejarah penyakit di dunia. Wabah raya dengan cepat meluas, tidak hanya di Amerika Utara dan Eropa, tetapi juga ke Alaska dan pulau-pulau terpencil di Pasifik, dan Asia Tenggara. Bahkan, sejumlah bukti-bukti sejarah menunjukkan, Indonesia pun tidak luput dari dampak pandemi influenza itu.

Selama pandemi influenza terjadi saat itu, diperkirakan 28 persen dari populasi penduduk saat itu yang berjumlah 500 juta jiwa terinfeksi. Total kematian yang tercatat akibat pandemi influenza tahun 1918 berkisar 20-40 juta jiwa. Wabah menyebar dengan cepat dari Amerika dan Eropa ke India pada Juni, kemudian ke Asia Tenggara.

Temuan awal penelitian yang dilakukan tim sejarawan dari Universitas Indonesia menunjukkan, sebagian wilayah Indonesia terkena dampak pandemi influenza yang melanda dunia tahun 1918. Wabah yang pertama terdeteksi di Indonesia adalah di wilayah pantai timur Sumatera.

Pada akhir Juli, wabah dilaporkan meluas ke Jawa dan Kalimantan, kemudian Bali dan Sulawesi. Wabah meluas sa mpai wilayah Timur kepulauan Nusantara, Maluku dan Timor. Gelombang kedua dari wabah ini terjadi pada bulan Oktober, mencakup wilayah yang lebih luas dan sporadis.  

Sejarawan dari UI, Kresno Brahmantyo dan Harto Juwono, menyatakan bukti-bukti sejarah mengenai hal itu antara lain tertuang dalam arsip tentang tentang peringatan Konsulat Jenderal Belanda di Singapura ke Batavia pada Mei 1918 untuk melarang masuknya kapal-kapal dari Hong Kong karena dikhawatirkan membawa wabah Influenza. Bukti lain adalah, telegram Zending van Gouverment atau telegram pemerintah kolonial Belanda yang memperlihatkan betapa gawat situasi saat itu.

Data dari arsip temuan awal menyebutkan, minggu ke-27 sampai ke-43 pada 1917 tercatat 230.098 penduduk di Jawa Barat, Jawa Tengah dan J awa Timur (Madura, Bali, Lombok) terserang influenza dan tahun 1918 jumlahnya meningkat jadi 229.566 orang. Periode selanjutnya, pekan ke-44 sampai ke-47 pada 1917 dilaporkan 51.688 kasus dan pada 1918 sebanyak 359.241 kasus.

Gelombang kedua wabah ini terjadi Oktober, mencakup wilayah lebih luas dan sporadis. Kepulauan Indonesia Timur paling parah terjangkit wabah ini. Jumlah kematian pun makin tinggi. Di Sulawesi Selatan, laporan misionaris menyatakan kematian ada dimana-mana. Di Tana Toraja, 10 persen dari populasi penduduk meninggal karena flu, di Lombok ada 36.000 orang meninggal.

Atas dasar itu, Pemerintah Hindia Belanda, pada 1920 mengeluarkan undang-undang penanggulangan wabah influenza. Isinya, seruan untuk mengibarkan bendara influenza , dibuat khusus warna merah dikibarkan dari matahari terbenam hingga terbit di daerah-daerah yang terjangkit influenza. Bendera kuning juga harus dikibarkan dari matahari terbit hingga terbenam. Seruan itu ditujukan kepada para Inspektur Dinas Kesehatan, kepala daerah, sekolah, kapal laut, pelabuhan kelas 1-4, kepala pelabuhan dan nahkoda.  

 

Tujuan penelitian

Kresno menyatakan, penelitian itu bertujuan memberi informasi dan sumbangan bagi kalangan medis dan non media dalam penanganan flu burung dan kesiapsiagaan pandemi influenza mematikan tentang langkah-langkah yang diambil oleh para dokter dan pemerintah kolonial di masa lalu dalam merespon, menanggulangi dan memitigasi dampak pandemi influenza 1918. Penelitian itu juga untuk memberi sumbangan bagi khasanah penulisan sejarah kesehatan yang belum banyak mendapatkan perhatian dalam historiografi Indonesia.

Hasil riset itu jadi titik tolak bagi pengkajian lebih lanjut tentang penyakit influenza bagi penanganan kasus flu burung yang melanda Indonesia dewasa ini serta penanganan penyakit yang berpotensi jadi pandemi lain. Penelitian ini juga memberi bukti-bukti tertulis, gambar, dokumenter serta wawancara kesaksian tentang Pandemi Influenza 1918 agar dapat digunakan sebagai bahan sosialisasi, komunikasi, informasi dan edukasi untuk meningkatkan pemahaman tentang pandemi influenza dan pentingnya kesiapsiagaan pandemi di segala sektor.

Menurut Ketua Pelaksana Harian Komite Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI) Bayu Krisnamurthi, temuan awal penelitian itu menunjukkan Indonesia kemungkinan juga bisa terkena dampak dari pan demi influenza A-H1N1 yang saat ini tengah terjadi di dunia. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan kasus penularan virus itu perlu terus dilakukan.   

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau